Mimpi Sepatu Emas
(Ditulis oleh Luhur Satya Pambudi)
- Sebuah cikal bakal cerita panjang seorang pesepakbola -
Bagas seperti tengah menjalani sebuah mimpi. Pemuda yang belum genap berusia delapan belas tahun itu dijemput di stasiun Gambir dan dibawa ke sebuah hotel di pusat kota. Setelah terlelap sebentar, lalu makan sarapan yang disediakan di kamarnya, dia kembali dijemput untuk dibawa ke markas klub sepakbola top, Jakarta Central Metrostars Football Club. Di markas klub yang memiliki julukan “The Jak” itu Bagas akan menjalani sejumlah tes serta menjalani latihan bersama skuad terbaru The Jak.
Dua pekan sebelumnya, Ragil Kusumo, pelatih kepala klub elite Liga Super itu menemuinya di sela-sela latihannya bersama Tidar Putra Magelang. Bagas mendapat undangan khusus dari Ragil untuk mengikuti sejumlah tes di Jakarta dan jika berhasil, satu tempat telah disediakan untuk dirinya di antara 25 pemain klub Jakarta yang didaftarkan ke Badan Liga Indonesia. Padahal selama ini tim yang diperkuatnya hanya bermain di divisi dua dan bersifat semi-profesional belaka. Dalam kesehariannya Bagas bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel motor di Magelang. Sepakbola hanyalah hobi baginya. Kendati sudah banyak cerita pesepakbola Indonesia yang sukses secara materi, sejak masanya Kurniawan Dwi Julianto dan Bambang Pamungkas, namun kedua orang tuanya tidak merestui keinginan anaknya menjadi seorang pesepakbola profesional. Maka setelah lulus SMP, Bagas memilih masuk SMK jurusan mesin, yang membuatnya bisa langsung bekerja begitu lulus.
Namun semangatnya menjadi pesepakbola sejati tak dipadamkannya begitu saja. Pernah suatu ketika Bagas bermimpi mendapatkan sepatu emas, simbol penghargaan bagi seorang pencetak gol terbanyak. Hal itulah yang memotivasinya untuk terus bermain sepakbola, kendati sekadar antar kampung di Magelang dan sekitarnya. Hingga suatu hari bakatnya tercium oleh tim pemandu bakat Tidar Putra Magelang. Tanpa berpikir panjang Bagas menerima tawaran untuk bermain sebagai penyerang tim divisi dua tersebut. Belum genap dua tahun bermain di klub tersebut, permainannya sudah menarik perhatian pelatih klub elite ibukota. Saat itu klubnya menjamu The Jak dalam sebuah pertandingan eksibisi di Magelang. Sebuah gol indah dicetaknya ke gawang The Jak dalam pertandingan yang berakhir dengan kekalahan telak tim tuan rumah dengan skor 1-8 itu.
Kostum oranye dengan namanya telah resmi diberikan kepada Bagas. Yang lebih membanggakannya lagi, nomor kostumnya di The Jak adalah nomor 18. Nomor tersebut semula dikenakan oleh Bimo Satrio, mantan playmaker The Jak, sekaligus kapten timnas Indonesia yang telah hijrah ke FC Tokyo, klub elite Liga Jepang. Sejak Bimo pergi dari Jakarta dua tahun lalu, belum ada lagi pemain lain yang pernah mengenakan nomor itu hingga Bagas datang dan memakainya. (bersambung kapan-kapan…)



sepatu emas ?
para pesepak bola INDONESIA sepatu berlebel asli EROPA ja
bnyak yg blum bisa ke beli…!