Milis Klub Sepakbola sebagai Kelompok Sosial

Sehubungan dengan bencana yg terjadi di situ gintung sana, gimana kalo kita MI bantu para korban di sana? segala jenis bantuan yg kita bisa ga mesti duit maybe pakaian dan barang2 bekas layak pakai, karena yakin bgt banyak yg ga sempet menyelamatkan barang2 mereka, mereka butuh bgt bantuan kita. Event ini bagus juga kok buat MI mungkin ga bisa liat dari segi komersialnya ya tapi it would be very nice if we can do something for the other. dan mungkin bakal lebih mempererat persaudaraan kita baik sesama MI ataupun sama orang lain. Dan bukan ga mungkin kan kalo disana orang2 bakalan tambah simpatik sama MI walaupun bukan itu tujuan utamanya . So i’ll wait for your respond ! -Muti

Kutipan diatas saya ambil dari sebuah milis klub bola yaitu realmadridfc_indonesia@yahoogroups.com. Saya cukup terkejut dengan niatan dari para anggota milis klub sepakbola yang notabene tidak ada urusannya dengan kegiatan sosial.

Sebuah milis bisa dikategorikan sebagai kelompok sosial. Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya.


Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:

* Kelompok statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.

* Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.

* Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.

* Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.

Dari 4 jenis kelompok sosial yang telah disebutkan diatas, milis sepakbola bisa masuk kedalam 2 kategori yaitu kelompok asosiasi dan kelompok sosial. Tapi mungkin lebih kuat kearah kelompok sosial. Ketika sebuah kelompok memiliki interaksi yang sangat dinamis, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadinya gerakan-gerakan baik kecil maupun besar yang keluar dari tujuan terbentuknya milis. Dan hal seperti inilah yang terjadi pada milis bola yang saya kenal. Tidak hanya ngobrolin sepak bola, tapi juga bisa membahas topik yang ada disekitar kita dan terkait dengan para anggotanya seandainya terkena musibah.

Sebuah milis memang ada yang ketat akan topik yang dibahas. Jika ada topik yang keluar jalur, maka admin tidak segan-segan menegurnya. Tapi berbeda dengan milis sepakbola. Topik yang dibahas memang seputar sepakbola, tapi tidak menutup kemungkinan akan memunculkan topik yang membahas seputar kita. Tujuannya? Jelas, untuk mempererat keanggotaan didalam milis. Jika persaudaraan didalam keanggotaan milis terjalin erat, maka diharapkan konflik dalam berdiskusi didalam milis bisa terhindarkan.

***

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_sosial

1 comment:

  1. Peduli ← sekadarblog (Pingback), 12. April 2009, 12:20
     

    […] sebabnya saya tak heran suporter Real Madrid dari Indonesia juga bikin kegiatan peduli sosial. Yang jadi rasa penasaran saya, kenapa tim lokal justru jarang bikin kegiatan sosial. Bahkan tim […]

     

Write a comment: