Archive for April, 2009

Guardiola : Hal Spesial Barcelona

( Ditulis Oleh Luhur Satya Pambudi )

Selain kembali menjadi satu-satunya tim non-Inggris di semifinal Liga Champion 2008/2009, Barcelona dari Spanyol juga memiliki keistimewaan lain yang tidak dimiliki oleh ketiga tim Inggris pesaingnya. Hal spesial itu adalah sosok pelatih Jose ’Pep’ Guardiola. Dia menjadi pelatih termuda, belum pernah membawa timnya juara, sekaligus satu-satunya pelatih lokal yang menangani tim semifinalis. Ketiga pelatih tim Inggris (Sir Alex Ferguson, Guus Hiddink, dan Arsene Wenger) adalah pelatih kawakan dengan jam terbang puluhan tahun, telah memiliki segudang trofi, dan merupakan pelatih asing di Liga Inggris. Dari sisi usia, reputasi, maupun gaji, Pep memang tidak layak dibandingkan dengan Sir Alex, Hiddink, maupun Wenger. Namun kenyataannya kini, pelatih muda Spanyol itu telah berdiri sejajar dengan para seniornya, setelah menempatkan El Barca sebagai semifinalis liga terwahid Eropa di musim pertamanya menangani klub profesional. Kiprah Guardiola akan semakin cemerlang jika Barcelona berhasil menyingkirkan Chelsea di semifinal dan kemungkinan menjadi juara di Roma pun ada di depan mata.

Salut buat Pep Guardiola!

***

Jadwal ISL Masih Kacau Pasca Pemilu

( Ditulis oleh Luhur Satya Pambudi )

Pemilu legislatif yang didahului dengan masa kampanye telah berlangsung aman dan terkendali di segenap penjuru tanah air. Terjadinya permasalahan lebih banyak yang bersifat administratif, tidak berhubungan dengan kerumunan yang bisa berujung pada kerusuhan massal. Bahkan gesekan yang terjadi pada sesama simpatisan parpol pun gara-gara mereka bersenggolan ketika bergoyang dangdut belaka. Jadi penundaan jadwal ISL karena pemilu jelas bukan sesuatu yang tepat. Kekhawatiran aparat keamanan terhadap suporter sepakbola terlalu berlebihan. Bahkan sepakbola seolah dipandang sebagai hantu yang menakutkan bagi pemilu. Faktanya, pertandingan yang tetap digelar di tanah Papua (Jayapura dan Wamena) maupun Palembang selama masa kampanye berlangsung lancar tanpa masalah. Sudah seyogyanya aparat keamanan di daerah lain dapat bersikap seperti rekan mereka ketika mengamankan pertandingan kandang Persipura, Persiwa, Sriwijaya FC, dan PSMS tersebut.

Sayangnya, pasca pemilu ternyata masih ada kepolisian daerah yang ketakutan memberikan ijin pertandingan ISL. Hal itu tentu saja membuat jadwal ISL kembali kacau. Padahal PSSI –yang tetap bertahan dengan inkonsistensinya- telah membatalkan jadwal sentralisasi yang semula direncanakan digelar di Jawa Timur. Namun semoga kompetisi ISL masih bisa berakhir tidak terlalu jauh dari rencana semula, kendati sudah pasti tidak tepat waktu.

Untuk ke depannya, PSSI dengan seluruh stakeholder sepakbola Indonesia bersama-sama aparat keamanan harus lebih saling percaya serta berpikir positif satu sama lain. Maka yang terjadi adalah pertandingan ISL tetap berlangsung aman seiring sejalan dengan pemilu. Untuk seluruh pihak yang merugi, semoga selalu sabar dan tetaplah tegar. Jangan sampai seperti para caleg yang gagal, hingga mengalami gangguan jiwa. Sepakbola kita masih perlu orang-orang ‘gila’ seperti Anda semua. Bravo sepakbola Indonesia!

***

You Control The Player, You Control The Manager

Roman AbramovichMenyaksikan atau mengamati klub Chelsea, seperti menyaksikan atau mengamati orang yang asik bermain Championship Manager atau sekarang dikenal Football Manager. Hanya bedanya, bermain Fotball Manager hanya terpaku pada mengontrol pembelian dan penjualan para pemainnya, sedangkan klub Chelsea, kita bisa mengamati dan menikmati orang berduit mengontrol tidak hanya pemainnya, tapi juga pelatih.

Orang yang dimaksud jelas Roman Abramovich. The Tinkerman, tidak memuaskan, ditendang. The Special One, terlalu bawel, ditendang. The Hunchback, tidak berhasil memberi tropi Liga Champions, ditendang. The Big Phill, mencatatkan rekor paling buruk di Liga Premier selama kekuasaan Roman, ditendang. Sekarang, dengan kekuasaannya, Roman menggaet Guus Hiddink untuk meraih tropi Liga Champions.

Bagi kebanyakan penikmat sepakbola, aksi beli-tendang pelatih sangat sangat dianggap tidak dewasa. Jadinya malah mengundang cibiran. Tim sebesar MU atau Arsenal saja tidak gampang gonta-ganti pelatih dan berhasil dalam jangka waktu yang panjang, kok Chelsea lebih asik gonta-ganti pelatih supaya mendapatkan kesuksesan instan.

Tapi bagi saya, aksi gila gonta-ganti pelatih oleh Roman malah memberikan kepuasan tersendiri. Ketika Jose Mourinho masuk menggantikan Claudio Ranieri, kita bisa menikmati aksi Jose bukan hanya dilapangan, tapi juga diluar lapangan. Ketika ditendang, kita bisa menikmati aksi pelatih yang lebih banyak menggali potensi pemain yang ada karena keinginan Avram Grant untuk mengejar pemain yang diinginkan tertutup oleh Roman sendiri yang melakukan pengetatan. Lalu masuk Phillipe Scholari, kita bisa menikmati bagaimana permainan sepakbola Latin masuk di Liga Premier yang dikomandoi oleh Deco. Dan terakhir datang Guus Hiddink yang sungguh-sungguh jenius karena bisa mengalahkan pelatih yang termasuk jenius di dunia sepakbola modern: Rafael Benitez, seperti kita saksikan tadi pagi.

***

Menikmati Aksi Pelatih Jenius, Guus Hiddink

guus hiddinkPada leg pertama antara Chelsea melawan Liverpool yang dimenangi oleh Chelsea, kita bisa menikmati kejeniusan Guus Hiddink yang bisa membalikan keadaan dari ketertinggalan kosong-satu menjadi tiga-satu. Kejeniusan Guus Hiddink di leg pertama, kalau boleh saya nilai:
1. Ketika bola-bola mati, Hiddink memilih memanfaatkan Branislav Ivanovic untuk mencari posisi kosong dikala pemain Liverpool terfokus pada pemain tinggi Chelsea yaitu Alex dan John Terry, dua pemain yang sering mengoyak gawang lewat sundulan.
2. Hiddink berhasil me-install instruksi kepada Essien untuk menutup gerakan-gerakan Gerrard.

Sedangkan pada leg kedua tadi pagi, kita bisa menikmati kejeniusan Hiddink yang bisa membalikan keadaan dari ketertinggalan kosong-dua menjadi empat sama. Kejeniusan Hiddink pada leg kedua ini terdapat pada:
1. Ketika tidak ada pemain kunci yaitu Gerrard, dan pola permainan menyerang Liverpool mengalir dari kaki ke kaki, tidak ada tokoh sentral lagi seperti pada leg pertama, Guus Hiddink memutuskan untuk bermain lebih menyerang, tidak lagi bertahan untuk mendapat kesempatan counter attack. Ketertinggalan dua-kosong, belum selesai menit ke-40, Guus Hiddink memutuskan untuk memasukan Anelka yang diperkirakan akan mampu memberi ruang gerak lebih banyak pada Drogba. Dan terbukti berhasil!
2. Merubah-rubah pemain untuk melakukan tendangan bebas adalah salah satu kecerdikan Hiddink untuk membuat bingung kiper Liverpool. Dan terbukti berhasil seperti dilakukan Alex.
3. Menjaga tempo pergerakan pemain-pemainnya, juga terbukti berhasil. Dengan tidak terlalu ngotot, pemain Chelsea jadi tidak mudah lelah hingga peluit tanda pertandingan berakhir. Alhasil, gol-gol tercipta dimenit-menit terakhir dan jelas memberikan peluang Chelsea untuk meraih tropi liga Champions untuk pertama kali.

Salut untuk Meneer Hiddink…

Ide Arsene Wenger Untuk Permainan Menyerang

Arsene WengerMenyaksikan sepakbola sebetulnya seperti membeli kucing dalam karung. Kita tidak bisa menerka berapa skor yang akan dihasilkan didalam pertandingan. Biasanya, kalau dalam satu pertandingan ada banyak gol yang tercipta, kita akan merasakan kepuasan tersendiri. Makanya, orang Amerika paling ogah main soccer dibanding American Football atau basketball karena disepakbola, gol yang dihasilkan hanya sedikit. Berbeda dengan american football atau basketball yang menghasilkan angka lebih banyak.

Perkara nikmat tidak nikmat main sepakbola, manajer Arsenal, Arsene Wenger mencetuskan ide bagus untuk memberikan kenikmatan bagi penggila sepakbola, khususnya penikmat liga Inggris. Dia berharap jika dalam sebuah pertandingan ada yang menang dengan selisih gol yang banyak, maka tim tersebut harus mendapatkan ekstra poin. Misalkan selisih gol yang tercipta adalah 3, maka si pemenang mendapatkan skor 4 poin, bukan 3 poin seperti biasanya. Arsene Wenger mengacu pada sistem olahraga Rugby. Tim akan mendapatkan 4 point untuk kemenangan, 2 poin untuk seri, 1 bonus poin untuk mencetak angka diatas 4, 1 bonus poin untuk kalah dibawah 7 atau lebih rendah. Dengan demikian, diharapkan pertandingan akan lebih sering diwarnai permainan menyerang dibanding permainan bertahan jika ingin mengejar juara diakhir musim.

Sayangnya, kebiasaan menghasilkan selisih gol terbanyak hanya bisa dinikmati oleh tim-tim papan atas. Ini mengingat kondisi dan kualitas tim di liga premier sangat timpang. Klub kaya akan selalu bisa mencetak gol lebih banyak dari klub menengah kebawah karena klub kaya memiliki pemain-pemain yang berkualitas untuk menghasilkan gol lebih banyak.

***

Next Page »