And the winner goes to ???

Pep Vs Fergie.JpgGemah ripah loh jenawi…

Istilah di atas mungkin pernah kita dengar di masa pendidikan dasar 6 tahun.

Ketika bapak dan ibu guru kita dengan sabar mendidik (bukan cuma mengajar loh) memberikan bekal ilmu, yang baru kita sadari beberapa tahun mendatang mengenai pentingnya pondasi dasar akhlak dan moral, bukan hanya soal materi ilmu pasti dan eksakta, yang akan sangat berguna dalam mengarungi kerasnya hidup di jaman edan.

Gemah ripah loh jenawi adalah impian semua orang, tak terkecuali para capres-cawapres kita. Semuanya menginginkan damai sejahtera di bumi pertiwi, tentu dengan platformnya masing-masing.

Calon no 1 punya jargon, “Lebih cepat lebih baik”. Sebuah istilah yang mengingatkan saya kepada negeri asal grup musik terhebat sepanjang masa (The Beatles), yang mengagung-agungkan kulit bundar dengan semangat “Kick and Rush”.

Tak penting soal bagaimana kemenangan itu diraih, jauh lebih penting bermain secara cepat dan bergemuruh, serta gegap gempita memenuhi stadion untuk kepuasan penonton. Namun metamorphosis yang melanda negara tersebut mulai merubah paradigma tersebut, tak terkecuali Manchester United.

Tim asuhan Opa Ferguson yang memasuki babak Final LC ini, berhasil memadukan gaya permainan Inggris raya dengan gaya gado-gado Amerika Latin, Asia dan Eropa daratan, dengan dukungan skuad importnya.

Saya masih ingat persis ketika pada tahun 1991, sebuah free kick cannon ball dari Ronald Koeman berhasil merobek gawang Les Sealey, untuk membawa El Barca “hanya” menjadi sekondan MU dalam perebutan gelar Winners Cup.

Ketika itu Man-Yoo tenggelam dalam “kepolosan” permainannya, namun sudah cukup mewakili St George Cross masuk kembali ke percaturan elite sepakbola benua biru.

Barcelona ? Sebaliknya.. El Barca sampai saat ini punya gaya sendiri yang tidak berubah. Bak seorang “autis”, Azulgrana punya patron sepakbola ala Capres no 3 “Lanjutkan !!!”.

Sistem constant offensive yang dikemas dalam possession football selama 2×45 menit adalah harga mati bagi para penghuni Catalunya. Tidak hanya dalam strategi namun juga dalam patron yang memang terlihat “berat” kepada sektor penyerangan dengan konsep 4-3-3. Sebuah sistem yang memang sudah mendarah daging dan mengakar selama puluhan tahun bagi tim yang baru saja menjuarai Primera Cup.

Barcelona vs Manchester United, sebuah pertarungan ideal nan bermutu dalam partai puncak di kota buatan Romus dan Romulus, beratus tahun silam. Best offense against best defense, meski prakteknya tidak akan sedemikian adanya.

Bertahan bagi Man-Yoo adalah mencari mati. Jauh lebih berfungsi jika Ronaldo, dkk bermain dengan gayanya sendiri. Karena justru yang saya lihat, kekuatan MU bukanlah melulu soal teknik, melainkan kesehatian, spirit bermain dan soliditas yang terbangun selama ini.

Jadi apakah MU akan juara ?

Soal ini nanti dulu. Entah mengapa hati kecil saya seperti terketuk. Sebuah gol yang nyaris musykil di injury time menit ke 93, mau tidak mau mengubah sudut obyektivitas saya. Dan seperti syair Marcel dalam judul lagu “Mendendam”. Alam sepertinya mau bercerita dengan memberikan tanda-tanda.

Gol Iniesta bukanlah kebetulan, melainkan pertanda berkelanjutan, ketika akhirnya merah-biru lah yang akan mengangkat tinggi-tinggi simbol pamor kasta sepakbola terelit di ranah Eropa.

Enjoy the game and feel the passion !!!

1 comment:

  1. suseno, 29. May 2009, 11:05

    barca emang luar biasa… MU musim depan akan lebih baik jadi siap - siap aja barca….

     

Write a comment: