Nonton Bola Jangan Lupakan Shalat

( Ditulis Oleh Luzman Karami )

Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang
hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya.
Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses, dan apabila
shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (H.R. Annasa’i dan Attirmidzi).

Hadis di atas tidak main-main. Shalat lima waktu adalah ibadah yang wajib dan paling penting bagi umat Islam. Jika seorang Muslim meninggalkan satu kali saja ibadah shalat fardhu, maka amalan ibadahnya pada hari itu akan sia-sia alias tidak diterima Allah SWT. Sia-sialah amalan yang dilakukan pada hari itu seperti menolong orang, menuntut ilmu, mencari nafkah, dan sebagainya hanya karena tidak melaksanakan shalat. Sungguh, sangat merugi.


Bobotoh -Geus shalat can ieu teh??-

Nah, apa kaitannya ibadah shalat ini dengan pertandingan Persib? Jika kita perhatikan, seluruh pertandingan Persib selalu dilaksanakan pada saat waktu shalat. Pertandingan sore hari dimainkan pukul 15 30, bertepatan dengan waktu ashar. Pertandingan malam hari dilaksanakan pukul 19.00, hanya berjarak sedikit dengan waktu shalat maghrib. Hal yang menjadi masalah, para bobotoh sudah memenuhi stadion dua jam sebelum pertandingan berlangsung. Ke manakah mereka saat adzan berkumandang? Apakah mereka melaksanakan ibadah shalat? Wallahualam.

Shalat memang nomor dua (nomor satu syahadat). Namun, Islam harus dilaksanakan secara kaffah (menyeluruh). Untuk apa syahadat tapi tidak shalat? Saking pentingnya ibadah shalat, Allah beberapa kali menyebutkannya dalam Al-Quran. Tidak percaya? Silakan buka QS Al-Baqarah:3,43,45,153,238, QS.Al-Anfaal:3, QS:Al-Ankabuut:45. Selain itu masih banyak ayat-ayat Quran dan juga hadis tentang shalat. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya ibadah shalat bagi umat Islam.

Pernah pada saat Persib bertanding malam hari, saya menyempatkan shalat maghrib terlebih dahulu di masjid yang terletak dekat stadion. Ironisnya hanya sedikit bobotoh yang terlihat di masjid tersebut. Mereka umumnya sudah memenuhi stadion. Apakah mereka takut kehilangan tempat di stadion? Apakah mereka lebih memilih kehilangan pahala shalat dibandingkan kehilangan tempat di stadion? Nyatanya, walaupun saya memilih untuk shalat terlebih dahulu, saya tidak kehilangan tempat di stadion. Saya masih bisa menyaksikan pertandingan Persib dengan nyaman dan dapat duduk. Percayalah, tidak mungkin Allah menyulitkan Hamba-Nya yang shalat.

Memang, rasanya sangat sulit shalat dahulu sebelum menonton Persib. Selain masjid di dekat stadion tak mungkin menampung seluruh bobotoh yang ada, banyak faktor yang tidak memungkinkan hal tersebut. Dalam hal ini tentunya Allah telah memberikan keringanan. Ibadah shalat dapat dijama’ jika kondisi tidak memungkinkan melaksanakan ibadah shalat secara normal. Perhatikan hadis berikut:

Telah berkata Anas, “Adalah Rasulullah saw., apabila berangkat (safar) sebelum gelincir matahari, beliau mundurkan Dzuhur hingga waktu Ashar, kemudian beliau berhenti (di jalan untuk shalat) jama’ di antara dua shalat itu, tetapi jika beliau berangkat sesudah gelincir matahari, maka beliau sembahyang Dzuhur (saja) lalu ia berangkat. (H.R Bukhari)

Jadi jelas shalat dzuhur dapat dijama’ dengan ashar,empat rakaat dzuhur kemudian empat rakaat ashar saat waktu dzuhur jika Persib bertanding sore hari. Shalat maghrib dapat dijama’ dengan isya, tiga rakaat maghrib dan empat rakaat isya saat waktu isya jika Persib bermain malam hari. Apakah hal itu hanya berlaku untuk yang mengalami perjalanan jauh? Coba perhatikan hadis berikut:

Telah berkata Ibnu ‘Abbas, “Rasulullah saw., pernah shalat jama’ antara dzuhur dan ashar, dan antara maghrib dan isya, bukan di waktu ketakutan dan bukan di dalam perjalanan (safar).” Lantas ada orang bertanya pada Ibnu Abbas, “Mengapa Rasulullah saw., berbuat begitu?” Ia jawab, “Nabi saw., berbuat begitu karena tidak mau memberatkan seorang pun dari ummatnya. (H.R. Muslim)

Nah, dengan berbagi fakta tersebut sudah jelas shalat lima waktu hukumnya wajib dan tidak boleh ditinggalkan apa pun alasannya. Jika kondisi tidak memungkinkan, Allah telah memberikan keringanan, yaitu dengan shalat jama’. Sekarang pertanyaannya, apakah masih mau meninggalkan shalat “hanya” karena mendukung Persib? Apakah tidak takut dengan azab di akhirat nanti?
Mungkin saja sulitnya Persib meraih kemenangan adalah peringatan dari Allah SWT karena banyak bobotoh yang tidak shalat. Percuma kita mendoakan Persib juara apabila tidak shalat. Doa kita tidak akan dikabulkan. Sok atuh introspeksi.

Ingat saudaraku, kematian dapat datang kapan saja dan di mana saja termasuk di stadion. Apa jadinya jika kita meninggal dalam keadaan tidak melaksanakan shalat? Silakan, bobotoh sendiri yang menjawabnya.

***

Tulisan ini dimuat di Media Indonesia, Sabtu 22 September 2007

6 comments:

  1. Tari, 12. October 2009, 17:19

    Nice post bung mamanku =D

     
  2. luzman, 21. October 2009, 23:13

    makasih bnyk tariku, sayangku,cintaku. hehe.
    tulisan km jg makin keren. aq suka

     
  3. tari, 25. October 2009, 14:43

    ich liebe dich bung mamanku =)

     
  4. luzman, 27. October 2009, 5:46

    ah udah ah say jangan mesra2an di blog orang.. ntar orang lain sirik. hihi..
    malu juga kan..

     
  5. sangkebenaran, 30. November 2009, 5:47

    http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran PEDOFILIA Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci?

     
  6. sangOon tuh, 16. January 2010, 3:20

    Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah SAW-Aisyah r.a.

    Berita Syekh Puji menikahi gadis berusia 12 tahun cukup membuat resah banyak
    kalangan. Di media dia beralasan salah satunya karena mencontoh Rasulullah yang
    menikahi Aisyah ketika Aisyah berusia 6 tahun. Sehingga jika Rasulullah
    menikahi Aisyah yang 6 tahun, tidak bersalah dong kalau dirinya menikahi gadis
    yang berusia 12 tahun.

    Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra.
    yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Dan efeknya,
    orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai
    alat tuduh terhadap Rasulullah dengan menganggapnya fedofilia. Mari kita
    buktikan. Secara keseluruhan data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari
    hasil riset Dr. M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad SAW The Super Leader
    Super Manager (2007).

    Kualitas Hadits
    Alasan pertama. Hadits terkait umur Aisyah saat menikah tergolong problematis
    alias dho’if. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan Aisyah
    dengan Rasulullah yang bertebaran dalam kitab-kitab Hadits hanya bersumber pada
    satu-satunya rowi yakni Hisyam bin ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari
    ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan
    tentang umur pernikahan ‘Aisyah r.a tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah
    ataupun Malik bin Anas. Itu pun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim
    di iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun.
    Mengenai Hisyam ini, Ya’qub bin Syaibah berkata: “Apa yang dituturkan oleh
    Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke
    Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang
    dilaporkan oleh penduduk Iraq. (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib. Dar
    Ihya al-Turats al-Islami, Jilid II, hal. 50) Termaktub pula dalam buku tentang
    sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut
    ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301).
    Alhasil, riwayat umur pernikahan Aisyah yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah,
    tertolak.

    Urutan Peristiwa Kronologis
    Alasan kedua. Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting
    secara kronologis ini:
    Pra-610 M : Zaman Jahiliyah
    610 M : Permulaan Wahyu turun
    610 M : Abu Bakar r.a. masuk Islam
    613 M : Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka
    615 M : Umat Islam hijrah I ke Habsyah
    616 M : Umar bin al-Khattab masuk Islam
    620 M : Aisyah r.a dinikahkan
    622 M : Hijrah ke Madinah
    623/624 M : Aisyah serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW.
    Menurut Al-Thabari, keempat anak Abu Bakar ra. dilahirkan oleh isterinya pada
    zaman Jahiliyah. Artinya sebelum 610 M.
    Jika ‘Aisyah dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti ‘Aisyah lahir tahun 613 M.
    Padahal menurut Al-Thabari semua keempat anak Abu Bakar ra. lahir pada zaman
    Jahiliyah, yaitu sebelum tahun 610. Jadi kalau Aisyah ra. dinikahkan sebelum
    620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai
    suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW dalam umur di atas 13 tahun. Kalau di
    atas 13 tahun, dalam umur berapa pastinya beliau dinikahkan dan serumah? untuk
    itu kita perlu menengok kepada kakak perempuan Aisyah ra. yaitu Asma.

    Perhitungan Usia Aisyah
    Menurut Abdurrahman ibn Abi Zannad, “Asma 10 tahun lebih tua dari ‘Aisyah ra.”
    (At-Thabari, Tarikh Al-Mamluk, Jilid 4, hal. 50. Tabari meninggal 922 M)
    Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal
    tahun 73 atau 74 Hijriyah (Al-Asqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 654). Artinya,
    apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal pada tahun 73 atau 74
    Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah
    berumur (27 atau 28) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijriyah. Dengan
    demikian berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW
    pada waktu berumur 19 atau 20 tahun.
    Allohu a’lam bishshawab.

    ustadz Syafii Antonio

    nb:
    Lalu kalau Rasul dituduh hobinya ngawini bocah cilik,mengapa bini2 yang lain
    sudah dewasa semua?
    Khadijah : janda umure 40 th.
    Zainab binti Khuzaimah:janda anake 9,coba tebak umure piro.
    Umu Habibah:janda anaknya Abu Sofyan,bertubuh gemuk juga bukan bocah.
    Raihana:janda dari Kepala suku Yahudi Bani Quraizah.bukan bocah.
    Maria Kiptyah:Persembahan dari Rojo Mesir,sekitar 18 th.Ini blasteran Mesir
    Koptik dengan Italy,bukan bocah.
    Maimunah:bukan bocah.

     

Write a comment: