Pohon Duit vs Kerja Keras di ranah EPL (Jilid-I)
3 tahun belakangan masih tetap dikuasai The Big Four
Walo di tahun saat Eric Cantona menendang kungfu.
Sempat goyah tuh posisi 4 besar.
Waktu itu Blackburn Rovers dengan SAS-nya meruyak kedepan
merongrong wibawa 4 besar dan akhirnya jadi juara EPL
Setelah itu, belum ada lagi tim selain 4 besar yang merajai liga Inggris
Padahal di tahun 1996, The Magpies sempat masuk jajaran elit
Chelsea Yang Beruntung
Revolusi yang digagas Glen Hoddle kemudian dipertegas oleh Ruud Gullit
dan diteruskan oleh Gianluca Vialli. Masih belum menjadikannya sebagai tim "elit"
Namun dengan adanya ketiga orang itu, Chelsea mulai mengumpulkan fans-2 baru
Jaman 90-an kala EPL masih dirangkul SCTV, orang hanya tahu dan suka MU, Liverpool dan Arsenal
Ketiga tim itu waktu itu pantas di idolai, layaknya trio Seri A (Juventus, Milan dan Inter) di RCTI
Begitu pohon duit tumbuh di kebon stamford Bridge….
Chelsea mulai digemari banyak orang, dan tiba-tiba perannya sama penting di EPL (sejajar dengan 3 tim tadi)
The Blues berperan sebagai tim elit yang patut digemari, maksudnya patut diperhitungkan
Menyaksikan sepakbola sebetulnya seperti membeli kucing dalam karung. Kita tidak bisa menerka berapa skor yang akan dihasilkan didalam pertandingan. Biasanya, kalau dalam satu pertandingan ada banyak gol yang tercipta, kita akan merasakan kepuasan tersendiri. Makanya, orang Amerika paling ogah main soccer dibanding American Football atau basketball karena disepakbola, gol yang dihasilkan hanya sedikit. Berbeda dengan american football atau basketball yang menghasilkan angka lebih banyak.
Performa Arsenal musim ini memang sangat labil. Ini sungguh mengecewakan pendukung Arsenal. Harapan meraih gelar harus dipikir ulang walau kompetisi masih separuh jalan.
Ditulis oleh Adhitya Warman


