Belajar Dari Sepakbola Amerika Serikat
Apa yang bisa dipelajari dari sepakbola Amerika Serikat untuk peningkatan kualitas sepakbola nasional?
Sebelum menjawabnya, kenapa harus membandingkan dengan Amerika Serikat? Kenapa tidak dengan Italia, Inggris ataupun Spanyol? Karena sepakbola di Amerika Serikat tidak pernah populer. Tapi belum lama ini, sepakbola malah menjadi bisnis yang cukup menguntungkan.
Misi federasi sepak bola nasional Amerika (US Soccer Federation) untuk memasyarakatkan olah raga dunia ini dapat dikatakan unik. Kenapa demikian? Karena bagi masyarakat Amerika pada umumnya kata football bukan berarti sama dengan jenis olah raga yang kita semua mengerti yakni sepak bola. Disini tradisi football sebagai icon olah raga nasional Amerika masih sulit untuk digeser oleh sepak bola (atau disebut soccer) mengingat terbatasnya siaran soccer yang dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat Amerika pada umumnya.
Menyaksikan pertandingan
Joan Laporta bak “orang suci” di Barcelona. Nama depannya memberikan aura tersendiri, sebagai penahbis kedigdayaannya di singgasana tampuk kerajaan sepakbola khas Catalunya.
Tottenham Hotspur pada Kamis, 31 Juli, resmi memboyong pemain sayap Timnas Inggris yang bermain bersama Blackburn Rovers, David Bentley dengan fee transfer 15 juta pound atau sekitar Rp 273 miliar plus add-ons (besaran fee yang dihitung dari jumlah penampilan Bentley bersama Spurs) sebesar dua juta pound (Rp 36,4 miliar). Bentley yang akan genap berusia 24 tahun pada 27 Agustus mendatang mengikat kontrak selama enam tahun di White Hart Lane. Di lain pihak Spurs memberi Bentley gaji mingguan sebesar 50 ribu pound (Rp 910 juta). Dengan demikian, sampai 2014, Bentley menguras dana klub (dari fee transfer dan gaji) sebesar 32 juta pound (Rp 582,4 miliar).
Ditulis oleh Luhur Satya Pambudi
Ditulis oleh Luhur Satya Pambudi
“Do as you do, not as they say….”
2 minggu yang lalu, Opa Sepp Blatter membuat pernyataan yang cukup bikin kuping panas para pelaku bola dataran Eropa. Dari Sir Alex Ferguson, Fabio Canavarro hingga pemilik MU, Malcolm Glazer dibikinnya gerah. Sepp Blatter bilang jikalau seorang pemain kepingin pindah ke klub lain, solusi terbaik adalah membiarkan si pemain pindah jika memang dia sudah tidak betah berada di klub tersebut. 

