5 Alasan Kenapa Kita Tidak Boleh Membenci Juventus
Soccerlens memuat tulisan menarik tentang bagaimana kita harus tidak bisa membenci Juventus. Berikut alasannya:
1> Manajemen Juventus telah berubah total semenjak Calciopoli
Semenjak Calciopoli, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo sudah angkat kaki. Begitu juga dengan para pemainnya. Yang tidak loyal sudah pada pergi. Mereka dijual, Juventus mendapatkan uang banyak, dan kini, pemainnya adalah pemain loyal Juventus ditambah pemain baru yang bagus-bagus hasil dari penjualan pemain tidak loyal.
2> Alessandro Del Piero masih punya gigi biarpun uzur dan tidak benar setengahnya adalah singa tua
Alessandro Del Piero terbukti telah menjadi striker terbaik di Serie A. Pavel Nedved, Hasan Salihamidzic pun begitu. Biarpun tua, tapi tetap saja giginya bertaring tajam.
3> Juve tidak pernah curang lagi!
Soal ini, rasanya bisa dimengerti kalau semenjak kembali ke Serie A, tidak pernah ada pinalti di akhir-akhir pertandingan buat Juventus.
4> Claudio Ranieri adalah manajer terbaik
Claudio Ranieri memang tidak terkenal dibanding Mancini yang selalu jadi bahan berita. Ketika di Chelsea pun, Claudio Ranieri kurang mendapat sorotan dibanding Arsene Wenger dan Alex Ferguson. Begitu pun di Valencia. Tapi, ketika dia kembali ketanah asalnya, Italia, dia mampu membawa Parma menjadi petarung yang tangguh di UEFA Cup. Begitu pula dengan kemampuannya mengasah seorang pemain bernama Giuseppe Rossi menjadi mutiara yang mengkilau.

5> Sangat salah kalau Juve payah di Serie B, Juve Bahkan membantai semuanya!
Semua orang berpikir bahwa Juve payah di Serie B. Itu hanyalah mitos yang dibuat oleh Juve-haters, fans Torino. Juve justru mengkontrol semua permainan hingga akhir musim, bahkan dengan masih dikurangi 9 poin dan skuad yang berkurang setelah ditinggal pemain topnya. Makan itu Torino!



Soal Ranieri, dilihat dari rekor kepelatihannya Ranieri memang dikenal sebagai pelatih yang bisa membangun pondasi tim. Tapi tidak untuk menjadi juara. Contohnya, ketika dia melatih di Valencia. Di ranah Spanyol, Ranieri mampu membangun pondasi kekuatan Valencia, menjadi tim yang disegani. Tak heran, sebagai penerusnya Hector Cuper berterus terang, Ranieri yang mempunyai jasa membangun tim ini. Kedua, ketika melatih Chelsea, Ranieri juga mampu membentuk kekuatan Chelsea. Keputusannya membeli Lampard dari West Ham dinilai sebagai pembelian terbaik. Sayangnya, meski Abramovich sudah menggelontorkan segepok uang, prestasi terbaik pun enggan mampir di Stamford Bridge.
Di Italia sendiri, nama Ranieri baru berkibar ketika membesut Fiorentina. Salah satu prestasinya adalah membawa Fiorentina juara Coppa Italia.
Mungkin, latar belakang inilah manajemen Juve menggaet Ranieri. Pertanyaannya, apakah selepas membawa Juve di posisi 3, Ranieri bakal ditendang? Fakta Deschamp, bisa jadikan referensi atas dugaan ini…
@Athos:
“Pertanyaannya, apakah selepas membawa Juve di posisi 3, Ranieri bakal ditendang?”
–> rasanya sih aman-aman aja tuh. belum ada gelagat dari manajemen juve mau nendang ranieri.
Anjrit lo Fer lumayan juga sih blog loe
kalo aku pikir neah soal pelatih belakangan dulu deh, yang jelas ranieri yakin tetep di juve .. tul ga??
walau turun ke seri B, atw c sekalipun gw adalah pendukung setia juventus, yg bkl trs berdoa kl juve bkl trs tambah bersinar walaupun sjuad yg ad sekarang gk se superior dulu
viva juve citra nivea tje fuk dan lain lain merupakan simbol yang pantas untkmu.coz sudah bersih dari noda kecurangan….!!! VIVA JUVENTINI
MO DISERI A OR KAGAK KEQ…AMPE KAPAN PUN GW TETEP DUKUNG JUVENTUS!!!
HIDUP JUVE…!!!SEMANGAT DEL PIERO dkk…!!!
[…] Masuknya mafia kedalam manajemen klub. Hal ini terjadi di Juventus sebelum terkena kasus Calciopoli. Selengkapnya bisa dibaca ditulisan ini -> 5 Alasan Kenapa Kita Tidak Boleh Membenci Juventus […]
Del piero memang ga ada matinya, tapi juventus harus siapin pengganti nedved yang bentar lagi bakal pensiun
saya pikir, juve harus membeli gabriel milito(barcelona), yuri zhirkov (rusia), diego (bremen)