Forget Spurs, say Hello to City !!!
Hasil seri 1-1 dengan Chelsea, bagi Hotspurs adalah sebuah pencerahan, namun bagi saya tidak ada ubahnya seperti lonceng kematian. Seperti sudah saya katakan dalam “Audere est Facere”, kans Spurs boleh dibilang punah sudah, jika gagal meraup 12 poin dalam 5 pertandingan perdananya.
Pendapat prematur ? Saya rasa tidak… Dengan kemasan pertandingan 1 musim penuh sebanyak 38 pertandingan, sudah cukup bagi saya untuk menilai kelayakan Tottenham untuk mengejar 4 besar demi kesempatan Liga Champions Eropa.
Kesimpulannya, Spurs gagal, dan tidak akan sanggup menembus peringkat 4 sebagai batas minimum peserta kejuaraan terbesar antar klub di Eropa tersebut. Untungnya penggantinya besar kemungkinan muncul dari tim medioker, di kota industri yang lebih dikenal dengan suporter lebih militan daripada the Londoners.
Berbaju biru langit, secerah awan dan menggapai langit dalam kungkungan City Stadium. Manchester City sepertinya melakukan koreksi diri seperti apa yang saya harapkan (namun tidak dilakukan) oleh Tottenham Hotspurs.
Tottenham “terlalu berat” ke depan. Tongkrongan Darren Bent, masih ditambah Dos Santos dan difull ofensifkan oleh Luka Modric. Di belakangnya masih muncul Jenas, seorang worker yang terlalu over excited untuk mencetak gol. Kedalaman lini tengah dan tiadanya gelandang bertahan plus sayap gantung half court, membuat Tottenham kelabakan menghadapi badai serangan lawan, dan mudah frustrasi jika ditekan oleh musuh.
Lain halnya dengan City. City punya kontra strategi. Ilmu realita akan ketatnya persaingan plus kesadaran berlingkungan, membuat klub nomor 2 di Manchester ini berbenah secara sederhana namun efektif.
Melihat kepada diri sendiri, City yakin bahwa pondasi back four mereka sudah cukup kuat, yang mereka butuhkan hanyalah waktu untuk bertambah matang. Onuoha-Richards-Dunne-Corluka adalah kuartet muda yang berprospek.
Kelemahan justru muncul di lini tengah, di tengah tingginya ketergantungan terhadap Elano, Michael Johnson dan Stephan Ireland dapat memberikan kontribusi positif, namun Hamann tiada bisa melawan deretan usia.
Dan muncullah nama Kompany, seorang pemuda Belgia berukuran menjulang, plus kemampuan atletis bak gelandang bertahan, ditambah skill centre back. Manchester City seperti mendapat durian runtuh dengan pembelian ini.
The Citizens semakin bersorak gembira, ketika si anak hilang, Shaun Wright Phillips kembali hadir secara “manis” untuk terus berlari dan mengisi hari-hari di ruang kanan lapangan hijau. Seorang keeling berukuran compact yang (pernah) sangat ditakuti, namun kemudian “dikebiri” di klub megapolitan bertabur bintang (dibaca : Chelsea).
Pada akhirnya last minutes luck kemudian datang, another Brazilian star within regular size of football players, suddenly came up from nowhere. Robinho, tiada gundah untuk memindahkan pikiran dan hatinya dari klub terbesar abad ini, Real Madrid ke sebuah klub yang tidak pernah masuk dalam jajaran elite Premiership selama hampir puluhan tahun.
Semuanya menyebut Robinho tolol. Robinho memilih ketidakpastian di dalam hidupnya. Namun apakah itu masalah ? Bukankah dari ketidakpastian akan muncul sebuah peluang ? Dan hanya dengan peluanglah orang bisa terus berkembang dan berusaha untuk membuat dirinya menjadi lebih baik ?
Robinho bukan hanya jago berstep over ria, tapi juga jago memprediksi keadaan. Robinho tahu persis akan hukum ekonomi di dunia kapitalis berlatar belakang industri sepakbola.
Di mana uang dapat menciptakan hysteria dan kekuatan massa bahkan pemicu kebesaran institusi. Robinho tidak berpikir jangka pendek demi gaji ratusan ribu pound per minggu, tapi juga masa depan yang lebih baik.
Masa depan membangun suatu legenda baru. Legitimasi sebagai bintang di klub yang akan menjadi hebat dan penembus hirarki premiership. Impiannya bukan sekedar omong kosong belaka, dan “diserahkan” kepada seorang Sultan asal Dubai.
Sulaiman Al-Fahim adalah oligar asal Dubai. Sentuhan tangan bersaput emas, siap diumbar. Robinho adalah pembelian perdana, dan lainnya siap menyusul. Terakhir, Gianluigi Buffon ditawar 70 juta euro oleh sang saudagar !!!
Gelontoran fulus Al-Fahim diyakini 5 kali lebih hebat daripada Roman Abramovich. Dan seperti Chelsea “dikemas” instan, City pun siap “disulap” Fahim.


