Belajar Dari Sepakbola Amerika Serikat
Apa yang bisa dipelajari dari sepakbola Amerika Serikat untuk peningkatan kualitas sepakbola nasional?
Sebelum menjawabnya, kenapa harus membandingkan dengan Amerika Serikat? Kenapa tidak dengan Italia, Inggris ataupun Spanyol? Karena sepakbola di Amerika Serikat tidak pernah populer. Tapi belum lama ini, sepakbola malah menjadi bisnis yang cukup menguntungkan.
Misi federasi sepak bola nasional Amerika (US Soccer Federation) untuk memasyarakatkan olah raga dunia ini dapat dikatakan unik. Kenapa demikian? Karena bagi masyarakat Amerika pada umumnya kata football bukan berarti sama dengan jenis olah raga yang kita semua mengerti yakni sepak bola. Disini tradisi football sebagai icon olah raga nasional Amerika masih sulit untuk digeser oleh sepak bola (atau disebut soccer) mengingat terbatasnya siaran soccer yang dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat Amerika pada umumnya.
Joan Laporta bak “orang suci” di Barcelona. Nama depannya memberikan aura tersendiri, sebagai penahbis kedigdayaannya di singgasana tampuk kerajaan sepakbola khas Catalunya.
“Do as you do, not as they say….”
Membaca tabloid olahraga bertiras terbesar seantero Indonesia, ramai sekali pembicaraan soal gaji tinggi pesepakbola. Topik tentang apa yang lazim disebut sebagai kompensasi atas kelelahan dan keringat para bintang lapangan hijau ini, memang menjadi berita hangat dalam 2 minggu terakhir.
17 Mei 2008, Cardiff City ditekuk oleh The Pompeys. Angka 1-0, tidak cukup menenggelamkan secercah berlian yang belum terasah di kubu Cardiff. Aaron Ramsey, nama sang berlian, digamit oleh the King of Wheeler Dealer, Mr Wenger pasca Piala Eropa 2008.
Dua minggu ini merupakan periode yang menyenangkan buat saya. Sebenarnya hanya hal sepele yang “kebetulan” saya (atau mungkin) rekan-rekan pembaca mengalami juga. Kemacetan sepanjang perjalanan menuju kantor secara signifikan berkurang.

